Tampilkan postingan dengan label TIMUR TENGAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TIMUR TENGAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Januari 2020

Jaga Diri dari Protes, Fallujah Hindari Kehancuran

Pasar Fallujah di provinsi Anbar, barat Irak. (Foto: Linah Alsaafin/Al Jazeera)


Di provinsi Anbar di Irak barat tidak ada protes anti-pemerintah sebagaimana yang melanda ibukota Baghdad dan provinsi selatan sejak Oktober 2019.

Senin, 19 Februari 2018

Devaluasi Rial Terhadap Dolar AS Guncang Iran



Rial Iran lawan dolar AS. (Foto: Mehr News)

Dua Sahabat Arab Sukses Dengan Bisnis Manga Jepang di Arab Saudi

Figur Dragon Ball di Anime Station Store, Jeddah. (Foto: Arab News)

Dua sahabat dari Arab Saudi yang mencintai cerita manga Jepang seumur hidupnya, kini menuai hasil dari sebuah kisah sukses bisnisnya yang hampir sama heroiknya dengan karakter manga dan anime yang mereka kagumi.

Mereka adalah Noha Khayyat dan Safa’a Akbar, pemilik bersama toko Nippon Sayko. Mereka mulai menjual barang manga dan anime buatan tangan di sebuah bilik kecil yang terselip di mal Jeddah delapan tahun yang lalu.

Awalnya, mereka diberitahu oleh pemilik toko lain bahwa mereka “tidak akan pernah bisa bertahan.”
Kini, delapan tahun kemudian, Nippon Sayko adalah salah satu gerai paling populer di Kerajaan Arab Saudi untuk anime dan manga, film animasi dan komik Jepang.

Permintaan akan anime dan manga Jepang telah meningkat secara dramatis di Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir, dengan semakin banyaknya toko yang menjual barang dagangan manga anime yang populer.

Acara seperti Comic-Con, sebuah konvensi komik dan multimedia yang diadakan di Riyadh dan Jeddah, juga meningkatkan minat terhadap animasi dan cerita Jepang.

Khayyat dan Akbar akan bergabung dengan gerai lain yang menampilkan berbagai barang anime dan manga di Comic-Con di Jeddah bulan Maret 2018.

Kedua sahabat ini mulai menjual barang dagangan yang berhubungan dengan anime saat di universitas. Mereka terkejut dengan respon antusias dari sesama mahasiswa. Setelah lulus dan tidak senang bekerja untuk sebuah perusahaan, mereka memulai Nippon Sayko.

“Awalnya sangat sulit karena kami tidak ingin meminta dukungan finansial kepada orang tua kami dan ingin melakukannya secara mandiri. Kami biasa bekerja di kantor kami dari jam 8-5 dan kemudian membuka stan ini jam 5 sore dan tinggal sampai jam 11 (malam),” kata Khayyat kepada Arab News.

Khayyat dan Akbar mengatakan bahwa mereka ingin menciptakan ruang tempat sesama penggemar manga dan anime bertemu dan berbagi kecintaan mereka.

“Orang-orang berhenti dari seluruh penjuru negeri hanya untuk Snapchat dengan karakter favorit mereka (manga), dan sangat indah melihat koneksi itu,” kata Khayyat.

Awalnya kedua sahabat itu harus berjuang karena mereka mengenalkan sesuatu yang asing bagi negara itu.

Mereka pun meminta masukan dari orang-orang untuk memberi tahu mereka, mana hal-hal yang disukai anak-anak atau tidak wajar jika menyukai hal-hal tertentu.

“Pemilik toko lain memberi tahu kami, ‘Anda tidak akan pernah bertahan lama.’ Tapi lihatlah sekarang juga, kami masih berdiri, sementara kebanyakan mereka tidak bisa melanjutkan,” kata Khayyat.
Toko Nippon Sayko. (Foto: Nassr Al-Battah)


Arab Saudi memiliki selera pertama terhadap anime sejak tahun 1970-an, dengan acara televisi populer seperti “Future Boy Conan” dan “Grendizer“. Keduanya favorit anak-anak pada saat itu.

Majed Nawawi, pemilik bersama dari Anime Station Store Jeddah, telah mengumpulkan gambar sejak tahun 1987. Sebagai seorang anak, dia mempromosikan acara favoritnya dan menyebarkan budaya anime di antara teman-temannya.

“Gelombang anime menyapu Arab Saudi dengan seri Naruto pada tahun 2002-2003. Itu revolusioner dan semua jenis orang masuk ke dalamnya,” kata Nawawi. “Sebelum itu, budaya ini tidak bisa diterima. Setelah Naruto, orang mulai merangkul anime. Itu membawa permintaan untuk action figures, barang dagangan dan asesoris.”

Para pengagum dan pebisnis anime ini tidak menyangkan bahwa mereka akan menyaksikan acara Comic-Con, IGN dan game di negara mereka.

“Kami mengetahui sejumlah besar orang yang menulis, membuat dan menceritakan kisah mereka melalui manga mereka sendiri. Kami sudah menempuh perjalanan jauh,” katanya.

Seorang pengunjung toko Anime Station Store bernama Rabu Al-Nahi mengatakan, ia tertarik pada anime sejak masih kecil dan masih menikmatinya ketika mahasiswa.

“Cerita yang mereka ceritakan, khususnya fantasi, mewakili imajinasi saya dan hal-hal yang selalu saya impikan, tapi sayangnya tidak bisa menjadi kenyataan. Saya bisa mengalaminya melalui anime. Saya mengumpulkan tokoh untuk menunjukkan betapa saya mengagumi karakter tersebut. Ini adalah pengingat anime yang saya lihat dan betapa saya menikmatinya,”katanya.

Kakaknya, Nora (26) sama pula.

“Anime favorit saya selalu ‘The Rose of Versailles‘ dari tahun 1979. Saya menontonnya saat masih muda dan saya masih bisa mengulanginya secara religius. Saya tidak setuju dengan kesalahpahaman tentang anime untuk anak-anak, karena ini untuk orang dewasa. Ada banyak hal yang saya pelajari darinya tentang referensi sastra dan Revolusi Perancis. Saya suka karakter utama Lady Oscar, karena dia bukan wanita biasa yang sedang dalam kesulitan. Dia kuat, mandiri dan cantik pada saat bersamaan,” kata Nora.

Sumber: Arab News

Mi’raj News Agency (MINA)

Sabtu, 30 Desember 2017

Israel Bangun Koalisi Arab Lawan Iran dan Hizbullah

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. (Foto: Getty Images)

Sebuah rangkaian kabel diplomatik Israel bocor. Ada perintah dari kepemimpinan Israel kepada kedutaan-kedutaan besarnya di luar negeri untuk melobi negara tuan rumah masing-masing agar mendukung Arab Saudi dan upaya nyata untuk mengacaukan Lebanon.

Perintah itu tampaknya merupakan konfirmasi formal pertama mengenai desas-desus bahwa Israel dan Arab Saudi berkolusi untuk memicu ketegangan di kawasan tersebut.

Kabel diplomatik itu dikirim oleh Kementerian Luar Negeri Israel dan diungkapkan oleh saluran berita Channel 10 Israel pada Ahad, 5 November 2017.

Kabel tersebut menginstruksikan agar para diplomat menekankan keterlibatan Iran dan Hizbullah dalam “subversi regional”.

Kabel itu menginstruksikan para diplomat Israel untuk menekankan bahwa pengunduran diri Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri menunjukkan betapa berbahayanya Iran dan Hizbullah terhadap keamanan Lebanon.

Para diplomat Israel di berbagai ibu kota negara dunia diminta mendesak “pejabat tertinggi” negara tuan rumah untuk mendesak pengusiran Hizbullah dari pemerintahan Lebanon.

Atas hal ini, beberapa pengamat telah mencatat bahwa langkah diplomatik Israel untuk campur tangan secara langsung dalam masalah Arab yang bersifat internal adalah “sangat langka”.

Pengamat  meyakini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengeluarkan kabel tersebut, mungkin ingin memperoleh keuntungan dari ketidakpastian di wilayah tersebut.

Perang kata-kata

Kabel tersebut muncul di saat Arab Saudi secara dramatis meningkatkan retorikanya terhadap Iran dan Hizbullah.

Pada hari Kamis, 9 November 2017, Kementerian Luar Negeri Saudi mengatakan kepada warganya untuk meninggalkan Lebanon segera, setelah menuduh Hizbullah “menyatakan perang” di negara tersebut.

Langkah itu menyusul pengunduran diri Perdana Menteri Saad Hariri, seorang politisi yang memiliki hubungan pribadi dan bisnis dekat dengan Arab Saudi. Bahkan Hariri mengumumkan kemundurannya di Riyadh, bukan di Beirut, bukan di negaranya sendiri.

Hariri menuduh Iran membangun “negara di dalam sebuah negara” di Lebanon melalui Hizbullah, sebuah kelompok Syiah yang diwakili di parlemen dan memiliki sayap militer yang kuat.

Ada kecurigaan kuat bahwa Riyadh memerintahkan Hariri mengundurkan diri, sebagai cara untuk menghancurkan Lebanon yang memiliki susunan politik rumit dan rapuh. Lebanon memiliki potensi konflik sektarian yang tinggi.

Arab Saudi juga telah memasukkan nama Iran dan Hizbullah terlibat dalam sebuah serangan rudal dari Yaman ke Riyadh pada 4 November, meski serangan itu diklaim oleh pemberontak Houthi.

Arab Saudi yang berperang besar di Yaman melawan kelompok Houthi, minoritas Syiah, telah menuduh Iran mendukung dan menyuplai senjata kepada Houthi.

Menachem Klein, seorang profesor politik di Universitas Bar Ilan, dekat Tel Aviv, mengatakan, kemungkinan Netanyahu menginginkan kabel diplomatik tersebut go public.

“Jika Anda mengirim kabel diplomatik dan mulai melobi setiap ibu kota asing, Anda harus berharap bahwa hal itu tidak akan berlangsung lama,” katanya kepada Al Jazeera. “Tujuan Netanyahu adalah untuk menjelaskan kepada orang Saudi bahwa dia dapat membantu.”

Profesor Klein mengumpamakan bahwa Netanyahu ingin berkata kepada Saudi, “Kami memiliki hubungan khusus dengan negara-negara Barat dan kami dapat membantu Anda memajukan tujuan politik Anda melawan Iran dan Hizbullah.”

Militer Israel. (YouTube)


Israel berisiko terseret oleh Arab Saudi

Namun komentator Israel Amos Harel mengatakan, Israel berisiko terseret oleh Arab Saudi dalam sebuah konfrontasi yang tidak perlu dan berbahaya dengan Hizbullah. Ia menggambarkan itu sebagai “usaha ambisius untuk mencapai tatanan regional yang baru”.

Dalam sebuah kolom di harian Haaretz Israel, Daniel Shapiro, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, berpendapat bahwa Saudi berusaha memindahkan medan perang dari Suriah ke Lebanon, setelah kegagalan mereka menggulingkan Presiden Suriah Bashar Al-Assad.

Menurutnya, baik Israel maupun Arab Saudi telah turut campur di Suriah dengan berbagai cara selama perang, dengan tujuan tersembunyi, yaitu memperlemah pemerintahan Assad dan membantu pasukan pemberontak yang didominasi oleh Islamic State (ISIS) dan afiliasi Al-Qaeda.

Namun dengan bantuan Rusia, Assad telah menopang pemerintahannya di sebagian besar negara dalam beberapa bulan terakhir, sementara kubu besar pemberontak ISIS telah runtuh.

Baik Israel maupun Arab Saudi tidak bisa lebih terlibat langsung di Suriah, mengingat adanya keterlibatan Rusia.

Shapiro memperingatkan Israel untuk mewaspadai upaya Riyadh yang akan mendorong Tel Aviv secara prematur ke dalam sebuah konfrontasi dengan Hizbullah, yang dapat dengan cepat meningkat menjadi perang regional.

Israel siap konfrontasi
 
Pada bulan September ada sebuah pertanda bahwa Israel mungkin sedang bersiap menghadapi konfrontasi di perbatasan utara. Tentara Israel mengadakan latihan militer terbesarnya dalam 20 tahun terakhir, yang mensimulasikan sebuah invasi ke Lebanon.

Hizbullah, bagaimanapun, diasumsikan secara luas sebagai kelompok yang dipersenjatai puluhan ribu roket dan rudal. Sejauh ini, Hizbullah telah bertindak sebagai pencegah pengulangan pengeboman Israel dan invasi ke Lebanon sebagaimana yang terjadi pada 2006.

Namun, Israel dan Arab Saudi tampaknya tertarik untuk memperkuat aliansi mereka dan mengalihkan perhatian ke Lebanon dan jauh dari Suriah.

Israel telah meluncurkan lebih dari 100 serangan udara terhadap pemerintah Suriah dan target militer dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar dengan alasan mencegah pengiriman teknologi senjata dari Iran ke Hizbullah.

Sebuah rumah sakit lapangan yang didirikan oleh tentara Israel di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, terbukti merawat pejuang Islam yang terluka dan mengembalikannya ke Suriah, sebagaimana PBB telah mendokumentasikannya.

PBB juga telah mengamati tentara Israel mengirim “kotak” kepada pejuang Islam yang secara luas diasumsikan berisi senjata, sebagaimana Haaretz pertama kali melaporkannya pada tahun 2014.

Pembangunan koalisi

Noam Sheizaf, seorang jurnalis Israel mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kabel diplomatik tersebut tampaknya merupakan upaya Israel dalam membangun koalisi dengan Arab Saudi dan sebagian besar negara Teluk.

“Israel memahami bahwa orang-orang Saudi kalah dari Iran di Suriah dan Yaman, dan sekarang mereka membutuhkan sekutu dengan kekuatan militer dan diplomatik yang untuk ini, dapat diberikan oleh Israel,” kata Sheizaf.

Netanyahu menunjukkan banyak hal dalam komentarnya baru-baru ini ketika dia mengatakan bahwa Israel bekerja “sangat keras”  membentuk sebuah aliansi dengan “negara Sunni modern” untuk melawan Iran. 
 
Sumber: tulisan Jonathan Cook di Al Jazeera

Mi’raj News Agency (MINA)

Jumat, 29 Desember 2017

Akhir Riwayat Al-Sabeen Square, Ikon Republik-Demokrasi Yaman

Puing-puing Al-Sabeen Square di Sanaa, ibu kota Yaman. (Foto: AA)

Al-Sabeen Square, tempat yang populer bagi warga sipil untuk berkumpul, telah berubah menjadi puing-puing hitam pada Ahad pagi, 5 November 2017.

Sekitar pukul 01.40 Ahad dini hari, serangan udara yang dipimpin Arab Saudi menghantam lokasi wisata tersebut, membuat banyak orang Yaman merasa terguncang bersama langit yang menghitam.

Sejak pemberontakan Houthi tahun 2011 di Yaman, Al-Sabeen Square telah menjadi tempat berkumpulnya para pendukung Kongres Rakyat Umum (GPC) dari seluruh negeri. Mantan Presiden Abdullah Saleh pernah menyampaikan beberapa pidato politiknya di sana. Pidato yang terakhir ia lakukan pada 24 Agustus 2017.

Ahlam Amri, seorang lulusan SMA yang tinggal di Sanaa mengatakan, serangan terhadap Al-Sabeen “tidak dapat dibenarkan, salah dan biadab.”

“Al-Sabeen Square adalah ikon republik dan demokrasi Yaman. Memang benar bahwa serangan udara menghancurkan tempat ikon ini, tapi tidak akan memaksa orang Yaman untuk menyerah,” kata Amri.

Osama Yahia, seorang penduduk lokal di Sanaa, mengatakan bahwa Yaman telah kehilangan infrastrukturnya sejak perang  pada bulan Maret 2015. Pengeboman terhadap Al-Sabeen Square adalah contoh terbaru.

“Tempat pawai parade bersejarah ini bukan milik kaum Houthi atau partai politik lainnya, melainkan milik semua orang Yaman,” kata Yahia. “Menghancurkannya tidak hanya merugikan kaum Houthi, ini telah menyakiti perasaan jutaan orang Yaman.”

Serangan udara di Sanaa telah meningkat dalam beberapa pekan di akhir Oktober. Pesawat tempur koalisi pimpinan Arab Saudi terus melayang-layang di daerah yang dikuasai Houthi.

Eskalasi ini terjadi setelah rudal balistik Houthi ditembakkan ke ibu kota Arab Saudi pada 4 November 2017.

Sabtu, awal pagi, pemerintah pemberontak yang bermarkas di Sanaa mengatakan, tentaranya menembakkan rudal balistik Burkan H2 ke Bandara Internasional Raja Khalid. Serangan mengejutkan itu membuat Riyadh tercengang. Maka sejak saat itu, Saudi meluncurkan serangkaian serangan udara terhadap banyak lokasi, salah satunya menghancurkan Al-Sabeen Square.

Al-Sabeen Square sebelum hancur. (Foto: Irhal)


Bukan kerugian yang pertama dan yang terakhir

Noura Al-Jarwi, seorang aktivis politik dan anggota Kongres Rakyat Umum (GPC), mengatakan dalam sebuah unggahan status di Facebook, pengeboman terhadap Al-Sabeen Square bukanlah kerugian pertama yang diderita rakyat Yaman.

“Setelah tiga tahun perang, pengepungan, penghancuran dan ribuan martir dan luka-luka, kerugian ini bukan apa-apa. Orang-orang Saudi akan menanggung harga yang telah mereka hancurkan di Yaman,” katanya kepada wartawan The New Arab.

Warga di Sanaa juga sangat marah karena pemerintah Yaman yang diakui secara internasional telah membiarkan serangan itu terjadi.

Sharif Naji, seorang warga Sanaa, mengatakan bahwa dia pergi untuk melihat reruntuhan pada hari Ahad. Ia merasa sangat sedih.

“Serangan udara telah menargetkan rumah sakit, sekolah, pemakaman, aula pernikahan dan sekarang tempat pawai berdiri. Bagaimana orang Yaman bisa mempercayai apa yang disebut pemerintah yang sah?” tanya Naji.

“Ketika saya melihat ke tempat yang hangus itu, saya tidak dapat menyembunyikan kesedihan saya, saya ingat ribuan orang yang dulu datang ke sana untuk melakukan demonstrasi atau memperingati perang yang telah menghancurkan keindahan negara kami,” kata Naji.

Namun, ada pula orang Yaman lainnya yang bereaksi tak acuh terhadap serangan itu.

Ali Aqlan, seorang sopir bus yang bekerja di Sanaa, mengatakan bahwa penghancuran tersebut tidak membuatnya “sedih.”

“Politisi dan pemimpin di Yaman harus merasa sedih dan menyesal karena mereka telah membawa penyakit ini ke negara ini, saat mereka melanjutkan pertempuran mereka demi kekuasaan,” kata Aqlan.

Yaman terjun ke dalam perang saudara ketika kelompok Houthi dan sekutunya menggulingkan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi pada awal 2015. Perang berlarut lebih buruk setelah Saudi memimpin koalisinya melakukan intervensi militer di Yaman.
Satu rudal tapi konsekuensi serius

Serangan rudal ke Riyadh telah memicu konsekuensi serius bagi Yaman. Tanggapan koalisi pimpinan Saudi tidak hanya mengebom Al-Sabeen Square dan pos terdepan militer lainnya, tetapi juga penutupan semua perbatasan Yaman.

Ini adalah perkembangan yang akan memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah menjadi bencana di negara itu.

Beberapa jam setelah mengumumkan penutupan perbatasan Yaman, krisis bahan bakar segera meningkat dengan cepat dan warga mengantri di banyak tempat di dekat pompa bensin di ibu kota. Penerbangan pun dihentikan di bandara selatan Yaman.

Faisal Mohammed (30), seorang penduduk di Sanaa yang biasa membeli bensin 20 liter seharga YR5600 (US$ 13), jadi harus membayar YR8000 (sekitar US$ 18) setelah penutupan perbatasan.

PBB memperingatkan bahwa blokade bantuan kemanusiaan di Yaman akan membuat jutaan orang berisiko.

“Operasi kemanusiaan diblokir akibat penutupan yang diperintahkan oleh koalisi yang dipimpin oleh Saudi,” kata Jens Laerke, juru bicara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) di Jenewa. 

*** Sumber: tulisan Khalid Al-Karimi di The New Arab. Khalid Al-Karimi adalah seorang reporter dan penerjemah lepas. Dia adalah anggota staf Pusat Media Yaman yang berbasis di Sanaa, sebelumnya bekerja sebagai editor dan reporter penuh waktu untuk koran Yemen Times.

Mi’raj News Agency (MINA)

Iran Selamatkan Suriah dari Kekalahan


Pada musim panas tahun 2012, komandan utama Tentara Suriah Merdeka (FSA) yakin bahwa momentum ada pada mereka dalam konflik perang saudara di Suriah. 

Sebuah bom meledak jauh di dalam pusat kota Damaskus yang menewaskan empat komandan senior tentara Suriah, termasuk Menteri Pertahanan Dawoud Rajiha, dan wakilnya Assef Shawkat yang juga merupakan saudara ipar Presiden Bashar Al-Assad.

Ledakan itu diyakini dilakukan oleh orang dalam yang bersimpati kepada oposisi, memberi harapan kepada pemberontak. Diyakini, hanya masalah waktu sebelum Assad menemui nasib yang sama.

Harapan itu semakin diperkuat oleh keberhasilan di medan perang, saat sekelompok kelompok pejuang berhimpun membentuk aliansi.

Fateh Hassoun, tokoh militer Suriah yang membelot dan memimpin pasukan FSA di Homs, pada saat itu sangat yakin bahwa pasukan yang setia kepada Assad tidak akan mampu bertahan dalam pemberontakan yang sedang berlangsung.

“Ada pembelotan yang meluas di antara korps perwira Suriah, terutama di tingkat tengah, seperti letnan dan kolonel yang menjadi tulang punggung tentara Suriah,” kenang Hassoun.

Saat itu, pasukan Suriah terkonsentrasi di barat daya negara tersebut, posisi yang bertujuan untuk mencegah ancaman dari Israel.

Namun bagaimanapun, keberhasilan kelompok oposisi Suriah tidak luput dari perhatian Iran dan Hizbullah, sekutu dekat Suriah. Keduanya kemudian meningkatkan keterlibatan mereka dalam perang Suriah.

Hassoun kemudian mengakui, setelah intervensi Iran dan Hizbullah, rezim Assad mulai meraih keuntungan di lapangan, terutama di wilayah pusat Homs dan Hama.

Meskipun ada intervensi Iran, rezim dan sekutu-sekutunya tetap tidak dapat memenangkan perang, tapi mereka berhasil melindungi ibu kota, Damaskus. Pasukan pemerintah melakukan mengepungan dan menahan oposisi di pinggiran ibu kota.

Bashar Al-Zoubi yang memimpin pemberontakan FSA di selatan mengatakan, Angkatan Darat Suriah hanya beroperasi pada seperempat kekuatan penuhnya sampai orang-orang Iran melakukan intervensi.

Menurutnya, tentara Suriah telah roboh dan beroperasi sekitar 20 – 25 persen dari kekuatan sebelumnya, hingga orang-orang Iran datang membawa serta Hizbullah serta milisi dari Irak dan Afghanistan. Para sekutu itu melakukan sebagian besar pertempuran atas nama tentara Suriah.

Zoubi sangat yakin bahwa oposisi akan memenangkan perang pada awal 2013, jika Iran tidak terlibat.

Sekutu dalam perang Suriah: Presiden Suriah Bashar Al-Assad (kanan), Presiden Iran Hassan Rouhani (tengah) dan Sekjen Hizbullah Lebanon Hassan Nasrallah (kiri). (Foto: blogger)

Milisi Syiah

Iran sangat ingin memastikan keterlibatannya dalam konflik di Suriah tidak terlihat secara langsung. Karena itu, kebijakannya berfokus pada pengerahan pasukan ke negara tersebut seolah-olah sebagai penasihat militer, serta melatih dan mengangkut milisi Syiah dari seluruh dunia Muslim ke Suriah.

Media Iran mengungkapkan jumlah pejuang Syiah Afghanistan yang membentuk divisi Fatemiyon sabanyak 20.000 orang.

Mereka bertempur bersama relawan lain dari Iran sendiri, Pakistan, dan Irak. Mereka ditarik dan digaji relatif tinggi dengan dalih untuk membela kuil Sayeda Zainab di Damaskus, salah satu tempat religius paling suci bagi Syiah.

Peran Iran tidak sekedar menyumbang angka bagi sukarelawan asing, tapi juga memainkan peran penting dalam melatih milisi Suriah.

“Langkah besar datang pada musim gugur 2012. Iran berkomitmen membangun dan memimpin milisi Pasukan Pertahanan Nasional (NDF) untuk menutupi Tentara Suriah yang telah habis,” kata Profesor Scott Lucas, seorang akademisi Universitas Birmingham dan pendiri situs EA WorldView.

Dengan kekuatan sebesar 90.000 pejuang, milisi NDF adalah formasi paramiliter pro-pemerintah yang telah ditugaskan untuk mengubah gelombang perang.

Iran telah membenarkan keterlibatannya dengan dalih melawan kelompok yang mereka sebut sebagai “takfiri”, seperti kelompok Islamic State (ISIS). Namun, milisi yang mereka latih telah dilibatkan secara langsung dalam memerangi kelompok oposisi Suriah seperti FSA.

Ambisi ekonomi

Menurut Profesor Lucas, Iran pun memiliki ambisi sosial ekonomi di Suriah.

“Komandan Iran tidak pernah percaya keefektifan unit reguler Suriah. Iran ingin menguasai konteks politik, ekonomi, dan militer Suriah,” katanya.

Ia mencontohkan seperti dalam kontrol de facto di Damaskus selatan dan kepemilikan aset seperti tambang fosfat.

Orang-orang Iran juga telah mengambil alih kendali secara de facto daerah sekitar kuil Sayeda Zainab di Damaskus selatan dan sedang melaksanakan proyek-proyek konstruksi besar di daerah tersebut.

Pengaruh Iran yang meluas akan menjadi perhatian bagi kepemimpinan pemerintah Suriah, tapi karena kelangsungan hidup pemerintah bergantung pada Iran, tidak mungkin kekhawatiran itu akan berubah menjadi gesekan antara kedua sekutu tersebut.

“Secara umum, tentu saja, pemerintah Assad tidak akan benar-benar mengungkapkan kecemasannya tentang pengaruh Iran yang meluas,” kata Profesor Lucas. “Misalnya, jika Anda membawa kunjungan Jenderal Bakri ke Damaskus, semua pernyataan adalah tentang kerja sama pemerintah Iran dan Suriah melawan terorisme takfiri dan Israel.”

Iran telah mendapat IOU (i owe you) dari Presiden Assad, karena pada dasarnya Iran menyelamatkan Suriah, jadi akan sangat sulit bagi rezim Assad untuk meninggalkan Teheran. 

Sumber: tulisan Ali Younes dan Shafik Mandhai di Al Jazeera
Mi’raj News Agency (MINA)

Blokade Saudi Ancam Krisis Mematikan Bagi Yaman

(Foto: AA)

Pada Senin, 6 November 2017, Arab Saudi mengumumkan bahwa mereka akan menutup semua pelabuhan darat, udara dan laut Yaman.
Meski Kerajaan Arab Saudi mengklaim itu adalah tindakan sementara, banyak yang memperingatkan bahwa sebagian besar blokade itu akan membahayakan warga sipil Yaman.
Kerajaan berdalih, langkah itu akan membendung aliran senjata kepada pemberontak Houthi Yaman.
“Komando Pasukan Koalisi memutuskan, untuk sementara menutup semua pelabuhan udara, laut dan darat Yaman,” kata pernyataan tersebut. Namun menambahkan, pekerja bantuan dan pasokan kemanusiaan akan terus dapat masuk dan meninggalkan Yaman.
Blokade tersebut terjadi setelah pasukan Houthi mengklaim bertanggung jawab atas roket yang ditembakkan ke Bandara Internasional King Fahad di Riyadh pada hari Sabtu, 4 November 2017. Houthi mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan pembalasan terhadap operasi yang dipimpin oleh Arab Saudi yang telah membunuh ribuan warga sipil Yaman.
Arab Saudi sejak itu menyalahkan Iran yang dianggap mendukung Houthi. Kerajaan menyebut serangan rudal itu sebagai “tindakan perang”.
Namun, pemerintah Iran membantah mempersenjatai Houthi dan mengatakan bahwa pemberontak itu memproduksi senjatanya secara lokal.
Sejumlah peneliti dan LSM telah meningkatkan kekhawatirannya bahwa blokade baru tersebut akan memperburuk krisis kemanusiaan Yaman yang sudah mengerikan. Tidak hanya senjata akan dibatasi, tapi pasokan vital bagi masyarakat madani Yaman tidak akan mencapai targetnya.
Khalil Dewan, seorang peneliti Yaman yang tinggal di London mengatakan, blokade udara, darat dan laut merupakan serangan frontal penuh terhadap penduduk sipil di Yaman.
Menurutnya, jika gagal memastikan warga sipil mendapat akses terhadap bantuan kemanusiaan atau fasilitas dasar di tengah wabah kolera yang melanda, itu akan menjadi pelanggaran hukum perang.
Pengamat April Longley Alley dari Kelompok Krisis Internasional yakin bahwa blokade tersebut dapat memperdalam penderitaan yang telah dihadapi warga sipil Yaman.
Menurutnya, situasi kemanusiaan yang buruk sudah sangat dalam, maka tergantung berapa lama blokade ini berlangsung.
Jika pelabuhan Hodeida, persimpangan perbatasan Arab Saudi dan Aden ditutup, akan memotong jalur kehidupan wilayah-wilayah yang dikuasai oleh pemberontah Houthi, wilayah yang menampung sebagian besar penduduk Yaman. Namun, keputusan tersebut juga akan secara langsung mempengaruhi daerah-daerah yang dikendalikan oleh pemerintah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Alley menegaskan, peringatan bahwa penutupan itu tidak akan mempengaruhi bantuan kemanusiaan adalah tidak cukup untuk memastikan makanan dan persediaan dasar lainnya mencapai warga sipil.

Jangan Blokade Pasokan ke Yaman

Anak Yaman menderita kekurangan gizi akut. (Foto: Twitter)
Sejak awal, intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman telah diperingatkan untuk tidak memblokade pasokan ke Yaman, karena bisa membuat jutaan nyawa berisiko.

Pada bulan Oktober, sebuah laporan rahasia PBB dan pernyataan dari LSM kemanusiaan mengatakan, pembatasan yang dipimpin oleh Arab Saudi mencegah pasokan penting seperti makanan dan obat-obatan untuk memasuki Yaman.
Saat itu, di saat koalisi pimpinan Arab Saudi mengklaim akan mencegah arus senjata untuk pemberontak, banyak kapal tak bersenjata diblokir dan ditargetkan. Bantuan kemanusiaan penting tidak bisa sampai ke Yaman.
Pada bulan Agustus, Program Pembangunan PBB (UNDP) mengkritik Arab Saudi karena menghalangi pengiriman bahan bakar ke pesawat PBB yang memberikan sebagian besar bantuan kemanusiaan untuk Yaman, The Independent melaporkan.
“Kami memiliki kesulitan untuk mendapatkan izin dari koalisi dan dari pemerintah Yaman untuk mengangkut bahan bakar jet ini ke Sanaa untuk memfasilitasi penerbangan,” kata Auke Lootsma, Direktur UNDP di Yaman.
Namun, ketika ditanya mengapa pengiriman bahan bakar jet diblokir, Lootsma mengatakan, “Ini adalah pertanyaan yang bagus, saya tidak punya jawaban.”
Yaman sudah menderita krisis kolera yang mematikan, pertumbuhan wabahnya menjadi yang tercepat dan terbesar yang pernah tercatat. Diperkirakan akan mencapai satu juta kasus pada hari Natal nanti.
LSM secara luas menyalahkan hancurnya sistem perawatan kesehatan Yaman karena perang dan penargetan rumah sakit dan fasilitas sanitasi.
Sumber: The New Arab

Mi’raj News Agency (MINA)

Apakah Lebanon di Ambang Konflik?

Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri (kiri) dan Menteri Negara Arab Saudi untuk Urusan Teluk, Thamer Al-Sabhan (kanan). (Foto: The Daily Star/Mohammed Azakir)
Pada hari Jumat, 3 November 2017 lalu, Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri kembali berangkat ke Riyadh, ibu kota Arab Saudi, padahal baru beberapa hari yang lalu ia kembali dari kunjungannya di sana.

Saad Hariri tampak begitu akrab dalam swafotonya dengan Raja Salman dan Menteri Negara Arab Saudi untuk Urusan Teluk, Thamer Al-Sabhan.

Ia bahkan memuji “pertemuan panjang dan bermanfaat dengan saudara laki-laki saya yang menghasilkan sebuah kesepakatan mengenai banyak isu yang menarik bagi rakyat Lebanon yang baik. Insya Allah, apa yang akan terjadi lebih baik.”

Tidak ada orang-orang Lebanon yang tahu apa yang akan terjadi sehari kemudian.

Pada hari Sabtu, 4 November 2017, dari ibu kota Riyadh yang ditayangkan langsung oleh TV Al-Arabiya, Saad Hariri tiba-tiba mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri Lebanon yang memimpin sebuah pemerintahan. Padahal, Kabinet Hariri adalah bagian dari sebuah penyelesaian kebuntuan politik di negara itu dengan menempatkan Jenderal Michel Aoun sebagai presiden dua tahun lalu.

Hariri secara politik “diculik”?

Bukan hanya pengumuman pengunduran diri itu yang mengejutkan pemerintah dan rakyat Lebanon, tapi tempat diumumkannya pernyataan itu menjadi tanda tanya besar. Mengapa harus di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, bukan di Beirut, ibu kota Lebanon? Apa artinya peran Arab Saudi dalam keputusan tersebut?

Seiring itu, ditambah kisruh Kerajaan tentang perombakan kabinet, penangkapan sejumlah pangeran dan pengusaha Saudi terkait kasus korupsi akbar, menyebabkan beberapa pengguna Twitter bercanda tentang “penculikan” Hariri.

“Berkediplah dua kali jika Anda ingin kami selamatkan,” tulis warga net.

Wiam Wahhab, seorang politisi pro-Hizbullah dari etnis Druze, meminta negara Lebanon untuk melakukan apa yang bisa dilakukan untuk memastikan amannya Hariri pulang ke Beirut.

Dalam pengunduran dirinya, Hariri mengungungkapkan tentang ancaman pembunuhan terhadap hidupnya dan situasi yang serupa dengan tahun 2005, tahun ketika ayahnya dibunuh karena memicu serangkaian pembunuhan politisi dan wartawan yang ditargetkan.

Namun, perlu dicatat bahwa Pasukan Keamanan Internal Lebanon menolak laporan tentang upaya pembunuhan yang gagal terhadap Hariri sebelum melakukan perjalanan ke Riyadh.

Ilustrasi: Hizbullah Lebanon. (Hamze)
Perang dingin di Timur Tengah

Sebelumnya di Kalam Al-Nass, sebuah talk show utama Lebanon, Menteri Sabhan menyebut bahwa tidak ada perbedaan antara Hizbullah dan kelompok teroris lainnya. Dia pun mengatakan bahwa akar terorisme terletak di dalam Republik Islam Iran saja.

Pemerintah Riyadh secara resmi telah mengumumkan perang terhadap Hizbullah. Al-Sabhan menekankan, tidak akan ada legitimasi “Sunni” untuk pemerintah manapun yang mencakup menteri Hizbullah di pemerintahan Lebanon di masa depan.

Dengan kata lain, Presiden Michel Aoun akan membutuhkan banyak kesabaran dan kreativitas untuk mendapatkan pemerintahan kedua selama masa kepresidenannya. Padahal, konstitusi menuntut semua pihak dan agama memiliki wakil di pemerintahan Lebanon, termasuk Hizbullah.

Kini, peran Arab Saudi hanya setengah cerita. Separuh lainnya adalah pengaruh Iran yang terus berkembang di Lebanon dan kehadiran sebuah partai bersenjata yang secara terbuka menjanjikan kesetiaan kepada pemimpin tertinggi Republik Islam tersebut.

Keputusan Hizbullah untuk memasuki konflik Suriah dipandang oleh banyak orang sebagai ketidakmampuan negara Lebanon untuk mengendalikan kebijakan luar negeri dan keputusan militer utama, yang memungkinkan pihak bersenjata untuk memperkuat “negara dalam sebuah negara”.

Presiden Iran Hassan Rouhani pun menambahkan minyak ke dalam api, ketika dia mengecam “imperialisme” dan keangkuhan Amerika Serikat dan berbicara tentang Iran yang lebih hebat dari waktu sebelumnya.

Israel dan Trump

Lebanon telah lama menjadi panggung perang dingin regional Iran-Saudi. Tapi apa yang membuat putaran pertarungan spesial kali ini?

Pada titik ini tidak ada rahasia lagi bahwa Israel dan Arab Saudi mengadopsi pendekatan yang hampir sama dengan wilayah tersebut. Keduanya mengadopsi paham “musuh dari musuh saya adalah teman saya”.

Bagi Israel dan Arab Saudi, Iran menghadirkan “ancaman eksistensial” dan melawan ekspansi adalah prioritas nomor satu mereka.

Pada bulan September, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji kerja samanya dengan negara-negara Arab.

“Ini jauh lebih besar daripada periode lain dalam sejarah Israel. Ini adalah perubahan besar,” katanya dalam sebuah pidato di Chatham House, Jumat, 3 November 2017. “Orang-orang baik berkumpul dengan Israel dengan cara baru, membentuk aliansi yang efektif untuk melawan agresi Iran.”

Bagi Netanyahu, pengunduran diri dan pernyataan Hariri adalah “seruan membangun bagi masyarakat internasional untuk bertindak melawan agresi Iran.”

Eskalasi di Lebanon juga didorong oleh fakta bahwa pemerintah Amerika Serikat Presiden Donald Trump telah terbukti lebih menerima tuntutan Arab Saudi dan Israel daripada pendahulunya Barack Obama. Trump lebih memilih menolak kesepakatan nuklir dengan Iran dan negara kekuatan dunia.

Menurut pengamat Joseph Bahout, untuk mengekang pengaruh Hizbullah, Hariri dan pemimpin Sunni lainnya mungkin akan mendorong Lebanon kembali ke jurang konflik sektarian Sunni-Syiah dan konflik kekerasan lainnya.

Memojokkan Hizbullah melalui tekanan regional dan internasional atau perang Israel, tidak akan baik bagi Lebanon. Hal ini terutama terjadi karena Hizbullah tumbuh subur dalam suasana “kita melawan dunia”. Terlebih mereka adalah satu-satunya partai politik bersenjata dan terlatih di negara tersebut yang memiliki pengalaman melawan Israel dan perang saudara di Suriah.

Sementara itu, warga Lebanon yang tidak beraliran, hanya bisa berharap pada hari ketika Arab Saudi dan Iran menghentikan campur tangan dalam urusan negara mereka.

Sumber: tulisan Halim Shebaya di Al Jazeera
Mi’raj News Agency (MINA)

Rabu, 06 Desember 2017

Babak Baru Perang Yaman Setelah Tewasnya Saleh

Perang Yaman. (Foto: Reuters/Stringer)

Kematian mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh menimbulkan keraguan tentang masa depan negara yang dilanda perang tersebut. Dengan kematian itu, beberapa pengamat menilai, perang antar Koalisi Pimpinan Saudi melawan pemberontak Houthi kemungkinan akan meningkat.
Menurut Hakim Al-Masmari, Pemimpin Redaksi Yaman Post, Saleh yang terbunuh pada hari Senin, 4 Desember 2017, oleh milisi mantan sekutunya, dianggap sebagai “pukulan yang sangat keras” kepada pasukannya.
“Rumahnya dikepung selama dua hari terakhir dan hari ini (Senin) mereka menyerang rumah tersebut. Dia lolos … dia ditemukan di sebuah kendaraan yang bentrok dengan pasukan pemeriksaan Houthi,” kata Mamari kepada Al Jazeera dari ibu kota Yaman, Sanaa.
Di lokasi itu Saleh dibunuh bersama sejumlah pembantu seniornya.
Saleh yang pernah memerintah Yaman selama lebih dari 30 tahun dan memainkan peran penting dalam perang saudara yang sedang berlangsung di negara tersebut, telah meminta Koalisi Pimpinan Saudi untuk menngnetikan pengepungan terhadap Yaman pada Sabtu, 2 Desember 2017.
Secara resmi dia telah memutuskan hubungan dengan Houthi beberapa hari sebelum kematiannya. Ia mengatakan bahwa dia terbuka untuk berdialog dengan koalisi militer Saudi yang telah berperang melawan Houthi selama lebih dari dua tahun.
Di saat Arab Saudi memuji sambutan Saleh, Houthi menyatakan bahwa Saleh melakukan sebuah “kudeta” dengan penawarannya kepada koalisi negara Arab.
Pada tahun 2015, Arab Saudi, bersama dengan negara-negara Arab lainnya, secara militer melakukan intervensi di Yaman untuk mengembalikan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang digulingkan oleh kelompok Houthi setahun sebelumnya.
Aliansi Saleh dengan kepemimpinan Houthi dipandang rapuh, menyatukan partai Kongres Rakyat Umum (GPC) dan fraksi Houthi Ansarullah yang di masa lalu saling bertentangan.
Masmari mencatat, kematian Saleh dapat menyebabkan koalisi pimpinan Saudi akan lebih meningkatkan operasi militernya.
Sejak perpecahan antara Houthi dan Saleh di akhir November, Koalisi Pimpinan Saudi telah mengintensifkan serangan udara di daerah-daerah yang dikuasai Houthi di Sanaa, yang menargetkan bandara dan gedung Kementerian Dalam Negeri yang ditinggalkan.


Koalisi Tidak Banyak Pilihan

Joost Hiltermann, Direktur Program Timur Tengah Kelompok Krisis Internasional, mengatakan, perkembangan terakhir merupakan kemunduran besar bagi Koalisi Pimpinan Saudi yang mencakup Uni Emirat Arab (UEA) sebagai pemain kunci.
“Koalisi mempertaruhkan harapan mereka pada Saleh untuk menundukkan Houthi, tapi keadaan tampaknya berubah secara berbeda. Ini menunjukkan kebangkrutan pendekatan militer mereka terhadap perang,” kata Hiltermann.
Awal tahun ini, serangkaian email yang bocor mengungkapkan, selama pembicaraan dengan mantan pejabat Amerika Serikat (AS), Arab Saudi berkeinginan untuk mengakhiri perang di Yaman.
Meskipun tidak ada langkah-langkah resmi dari Arab Saudi untuk menarik diri dari konflik tersebut, Hiltermann mengatakan, Riyadh saat ini memiliki lebih sedikit pilihan.
“Jika mereka memutuskan untuk melipatgandakan pengeboman udara, warga sipillah yang akan menderita di atas malapetaka kemanusiaan yang telah kita lihat di Yaman,” katanya.
Pertempuran antara sesama pemberontak (Houthi dan Saleh) tersebut terjadi di saat penghuni Sanaa yang diblokade sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Koalisi yang dipimpin Saudi memberlakukan blokade pada bulan Oktober di negara Semenanjung Arab itu, padahal hampir 80 persen penduduk membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.
Akhir November 2017, di tengah meningkatnya tekanan internasional atas penderitaan jutaan orang Yaman, beberapa bantuan kemanusiaan diizinkan memasuki Yaman.
Andreas Krieg, seorang pengamat politik King’s College London, mengatakan, dalam jangka pendek di Yaman akan mengalami keadaan tidak aman yang lebih buruk dari sebelumnya.
“Pengeboman koalisi sudah cukup buruk, sekarang akan ada tingkat perang saudara yang baru,” katanya.
Menurutnya, Arab Saudi ingin menarik diri dari konflik “mahal” itu, tapi sekarang tidak ada jalan keluar dari perang bagi koalisi.
Masa Depan GCP

Kematian Saleh membuka lebar pertanyaan tentang siapa yang akan menjdi penerusnya untuk memimpin partai Kongres Rakyat Umum (GPC).

Pengamat mempertanyakan, apakah pengikut GPC akhirnya akan berjanji setia kepada Houthi, atau mereka akan berkumpul kembali dan bersekutu dengan tokoh-tokoh terkemuka GPC.
Putra Saleh, Ahmed Abdullah Saleh, mantan komandan Garda Republik tentara Yaman, telah tinggal di UEA selama lebih dari empat tahun.
Keponakan Saleh, Tareq Mohammed Abdullah Saleh, adalah seorang jenderal angkatan darat yang telah bertindak sebagai penasihat militer Saleh selama bertahun-tahun.
Menurut Hakim Al-Masmari, Tareq diperkirakan akan memimpin operasi militer melawan pemberontak Houthi.
Gamal Gasim, profesor Studi Timur Tengah di Grand Valley State University, mengatakan, keamanan Sanaa mungkin tetap stabil jika Houthi mempercepat kontrol mereka atas kota tersebut.
Namun, jika keponakan Saleh berhasil mengumpulkan dukungan dari Garda Republik serta suku Sinhan Saleh sendiri, kekacauan di Sanaa bisa terjadi.
“Masih harus dilihat apakah putra Saleh, Ahmad Saleh akan kembali ke Yaman dan mengklaim kepemimpinan atas apa yang tersisa dari pasukan ayahnya,” kata Gasim dan mencatat bahwa langkah itu memerlukan dukungan dari Arab Saudi dan UEA.
“Waktu di sini sangat penting, jika mereka ingin berhasil dalam usaha itu, mereka harus bergerak dalam 48 jam,” tambah Profesor.
Sumber: Al Jazeera

Selasa, 14 November 2017

Menebak Mesranya Petinggi Intelijen Saudi-Israel

Pangeran Arab Saudi Turki Al-Faisal bersebelahan dengan Efraim Halevy, Direktur Mossad era 1998-2002 di Forum Keamanan Timur Tengah 2017, Ahad, 22 Oktober 2017, New York. (Foto: James Reinl/Al Jazeera)

Beberapa tahun yang lalu, prospek untuk pejabat Israel dan Arab Saudi berbagi panggung akan sulit ditemui. Namun, pada Ahad, 22 Oktober 2017, mantan Kepala Intelijen Arab Saudi Pangeran Turki Al-Faisal tampak santai dan akrab di samping Efraim Halevy, Direktur Mossad era 1998-2002, di sebuah podium di Upper East Side Manhattan, New York, Amerika Serikat (AS).

Al-Faisal menolak penilaian bahwa Israel dan Arab Saudi merayap menuju pengenduran, tapi banyak referensi mengenai skema senjata nuklir Iran dan kekuatan regional yang berkembang menjadi ancaman umum yang dirasakan bersama oleh kedua negara.

“Tidak ada pertengkaran di bawah meja antara Israel dan negara-negara Arab ini. Apa yang dibutuhkan ada di atas meja, bukan di bawah meja,” kata Al-Faisal kepada Forum Keamanan Timur Tengah di New York.

Namun demikian, para pengamat menilai, penampilan publik bersama mantan pemimpin intelijen Saudi dan Israel tersebut menunjukkan hubungan yang hangat antara kedua negara, menimbulkan pertanyaan sulit bagi orang-orang Palestina.

“Seharusnya bukan hal yang luar biasa melihat mantan spionis Israel dan Saudi berbagi panggung, tapi ini adalah tanda bagaimana kedua belah pihak perlahan membiarkan hubungan belakang layar itu muncul sedikit,” kata Michael Koplow, seorang pengamat Forum Kebijakan Israel yang juga bagian dari penyelenggara acara di Menhattan.

Faktor Iran

Beberapa anggota dari enam anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), terutama Arab Saudi, telah menuduh Iran mendorong ketegangan sektarianisme di negara-negara Arab untuk membangun sebuah pengaruh bulan sabit di Timur Tengah. Namun, Iran membantah tudingan tersebut.

Israel berbagi antipati dengan Arab terhadap Iran, keduanya memandang Teheran sebagai ancaman eksistensial. Sebagai militer paling kuat di kawasan ini dengan kemampuan intelijen yang disegani serta hubungan dekat dengan AS, Israel berpotensi menjadi sekutu penting melawan Iran bagi negara-negara Arab.

Sebagai tanda mencolok bahwa kedua negara memiliki kepentingan bersama, baru-baru ini baik Israel maupun Arab Saudi mengucapkan selamat kepada Presiden Donald Trump setelah pidato 13 Oktober lalu. Kedua pemimpin negara mendukung Trump yang menyatakan bahwa dia tidak akan mengesahkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mencatat bahwa Israel setuju dengan Arab dan Trump.
“Ketika Israel dan negara-negara Arab utama melihat dari mata-ke-mata, Anda harus memperhatikan, karena sesuatu yang penting sedang terjadi,” kata Netanyahu awal bulan Oktober.

Para pemimpin Arab belum secara terbuka membuat komentar serupa, tapi itu bukan berarti mereka tidak setuju dengan Netanyahu.

Mereka menghadapi kepekaan di negara mereka sendiri, karena Israel sering dipandang dengan permusuhan yang ekstrem, terutama bagi pendudukan Palestina.

“Sementara batas kerja sama dan pengakuan publik sepenuhnya bergantung pada hasil negosiasi status permanen antara Israel dan Palestina, tidak ada pertanyaan bahwa baik Israel maupun Arab Saudi melihat keuntungan sedikit dari pencairan publik di tempat yang secara tradisional merupakan pembekuan yang dalam. antara kedua sisi," tambah Koplow.
Mantan Kepala Intelijen Arab Saudi Pangeran Turki Al-Faisal. (Foto: Wikimedia Commons)


“Aliansi alami”

Pada bulan Mei, Presiden Trump mengunjungi Timur Tengah. Ia melakukan perjalanan dari Arab Saudi ke Israel dalam penerbangan langsung yang jarang terjadi antara kedua negara.

Setibanya di Israel, Trump berbicara tentang perasaan yang benar-benar baik terhadap Israel di Kerajaan Saudi.

Di Israel dan beberapa media Arab telah penuh dengan spekulasi bahwa Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman telah melakukan kunjungan rahasia ke Tel Aviv pada bulan September lalu untuk melakukan pembicaraan dengan Netanyahu dan pejabat senior Israel lainnya.

Hingga kini, hanya dua negara Arab – Mesir dan Yordania – yang telah menandatangani kesepakatan damai dengan Israel.

AS telah mempromosikan hubungan antara Israel dan dunia Arab di saat Trump berusaha memanfaatkan kepentingan regional untuk mencapai kesepakatan damai Israel-Palestina.

Pengakuan formal terhadap Israel oleh negara-negara Arab lainnya tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat, tapi kerja sama telah meningkat, sejumlah laporan menunjukkan hal itu.

Kebijakan negara-negara Arab yang telah puluhan tahun menolak untuk berurusan dengan Israel sampai negara Palestina merdeka tercipta.

Joost Hiltermann, penulis A Poisonous Affair: America, Iraq, and the Gassing of Halabja, menggambarkan terjadinya sebuah “aliansi alami” antara Israel dan Arab Saudi. Namun ia memperingatkan, hal itu akan merugikan rakyat Palestina.

“Mereka (rakyat Palestina) akan menjadi korban hubungan apa pun,” kata Hiltermann kepada Al Jazeera.

Pemerintah Riyadh dapat mentolerir kesepakatan damai yang buruk dengan Palestina untuk menjamin kerja sama dengan Israel dalam melawan Iran.

Ali Vaez, seorang analis dari Kelompok Krisis Internasional yang berpusat di Istanbul, mengatakan bahwa dia berbicara secara teratur dengan pejabat Iran. Ia mengungkapkan, Teheran tidak terlalu khawatir tentang tentang front persatuan antara Israel, Arab Saudi dan sekutunya di Teluk.

Menurut Vaez, pemerintah Iran telah memanfaatkan setiap kemungkinan pembicaraan damai Israel-Palestina dan “memiliki kartu untuk menyabotase prosesnya”.

Sementara itu, kerja sama antara pemerintah Arab Saudi dan Israel akan mengurangi legitimasi mereka di mata penduduknya sendiri.

Sumber: tulisan James Reinl di Al Jazeera
Mi’raj News Agency (MINA)
 

Kamis, 26 Oktober 2017

Mengapa Israel Serang Suriah?

Jet Israel
Selama Sabtu, 21 Oktober 2017, saling tembak lintas batas antara Israel dan Suriah terjadi, kian memanaskan permusuhan kedua negara.

Kedua negara saling menyalahkan ketika Israel menyerang meriam artileri Suriah. Israel mengklaim bahwa mereka merespon tembakan roket yang mendarat di Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki Israel.

Namun, kekerasan dan ancaman lintas batas bukanlah hal baru. Telah terjadi serangan tit-for-tat yang hampir rutin dalam bentuk tembakan roket, pembunuhan dan serangan udara yang telah meningkat sejak perang Suriah dimulai pada tahun 2011.

Di saat tentara Israel telah sering menembaki posisi dan basis militer Suriah selama perang, pasukan pemerintah Suriah justru tidak pernah secara langsung membalas, meskipun Israel berspekulasi bahwa sebagian dari tembakan yang menyasar ke Dataran Tinggi Golan itu disengaja dari Suriah.

Jenis serangan apa yang terjadi?

Serangan Israel terhadap tentara Suriah terjadi secara sporadis dan umumnya dianggap terjadi saat ada tembakan nyasar ke Dataran Tinggi Golan, baik oleh tentara Suriah atau oleh oposisi dan milisi dukungan Iran.

Dalam kasus penembakan yang menyimpang, tentara Israel mengatakan bahwa pemerintah Suriah bertanggung jawab dan membalas dengan menembaki posisi pemerintah, terkadang tembakan itu jauh ke dalam wilayah Suriah.

"Kami akan menyerang siapa saja yang menyerang kami. Kami tidak akan menerima tumpahan. Jika mereka menyerang kami, kami akan balas, dan tidak memakan banyak waktu," kata Perdana Menteri Israeal Benjamin Netanyahu setelah insiden penembakan 21 Oktober itu.

Menurut Ofer Zalzberg, pengamat senior Israel/Palestina untuk Kelompok Krisis Internasional, sejauh ini ada sekitar 20 serangan yang dilakukan oleh pejuang yang didukung Iran di perbatasan.
Dia yakin bahwa Israel juga membalas bila ada "penyeberangan" yang disengaja oleh oposisi Suriah yang mendorong Israel untuk menyerang militer Suriah.

Israel pada umumnya menolak untuk mengomentari serangan yang dilakukan di Suriah. Namun, dilakukan beberapa serangan terkenal berikut ini:

1.       Membunuh tiga pejuang pro-pemerintah Suriah di Quneitra, di dekat Dataran Tinggi Golan pada 23 April 2017.
2.       Serangan di pusat pasokan senjata yang dioperasikan oleh Hizbullah dekat bandara Damaskus pada 27 April 2017.
3.       Pengeboman sebuah depot fasilitas pemerintah Suriah yang dianggap terkait dengan produksi senjata kimia negara tersebut pada 7 September 2017.
4.       Membunuh beberapa pejuang Hizbullah, termasuk Jihad Mughniyeh, anak seorang pemimpin militer yang tewas dalam serangan udara di Quneitra pada 19 Januari 2015.
5.       Pembunuhan Samir Kuntar Hizbullah di pinggiran Damaskus pada 19 Desember 2015.

Mengapa begitu sering?

Suriah dan Israel secara teknis telah dalam keadaan perang sejak 1948, setelah pembersihan etnis Palestina dan perang Arab-Israel yang terjadi tahun itu.

Pada tahun 1967, Israel menduduki wilayah Suriah di Dataran Tinggi Golan dan terus menduduki sebagiannya sampai hari ini.

Kedua negara menandatangani sebuah perjanjian pelepasan pada tahun 1974 setelah perang 1973 antara Israel, Suriah dan Mesir.

Wilayah perbatasan tetap relatif sepi sejak saat itu, tapi letusan perang di Suriah mengeluarkan sebuah babak baru dalam hubungan Israel-Suriah.

Metamorfosis perang sangat penting untuk memahami peningkatan serangan semacam itu selama beberapa tahun terakhir.

Kekuatan dan pengaruh yang berkembang dari Iran dan Hizbullah di Suriah adalah perhatian utama Israel, sebuah ketakutan yang tidak disembunyikannya.

Pada tahun 2006, Israel dan Hizbullah melakukan perang berdarah 34 hari yang mengakibatkan kematian lebih dari 1.100 orang Lebanon, yang sebagian besar adalah warga sipil. Diperkirakan 159 orang Israel, termasuk 43 warga sipil, juga tewas akibat serangan roket Hizbullah.

Khawatir bahwa Iran mengirimkan senjata ke Hizbullah, Israel telah sering menargetkan konvoi senjata dengan mengatakan akan terus memblokir upaya untuk mendukung gerakan Lebanon itu.

Netanyahu menuduh Iran "mengubah Suriah menjadi basis pertahanan militer" dan ingin menggunakan Suriah dan Lebanon sebagai front perang untuk membasmi Israel.

Siapa yang bertanggung jawab?

Di saat pemerintah Suriah mengatakan bahwa Israel bekerja sama dengan "kelompok teroris" di Suriah, Israel balik menyalahkan tentara Suriah karena ada roket yang berasal dari daerah-daerah yang berada di bawah kendalinya.

Menurut pengamat, kedua negara yang harus dipersalahkan atas eskalasi kekerasan perbatasan.
"Jika Anda berbicara tentang hukum internasional, maka Israel harus disalahkan karena menyerang negara lain. Tetapi rezim Suriah juga terlibat dalam memprovokasi Israel dengan mendukung Hizbullah," kata Sobhi Hadidi, seorang analis politik Suriah yang independen di Perancis.

Omar Kouch, pengamat politik Suriah mengatakan bahwa milisi Iran yang bertanggung jawab.

"Ketika mendekati perbatasan, dia (milisi Iran) tahu bahwa Israel akan menanggapi. Ketika meluncurkan rudal di perbatasan, dia tahu bahwa Israel akan menanggapi. Ketika mencoba untuk mengirim senjata ke Hizbullah, dia tahu bahwa Israel akan memblokir ini. Ini semacam permainan," kata Kouch.

Para pengamat menilai, serangan-serangan tersebut tidak akan mengarah kepada perang penuh, tatapi kemungkinan serangan tit-for-tat hanya menyebabkan perang skala rendah.

"Rezim telah diserang oleh Israel selama bertahun-tahun dan tidak pernah merespon sekali pun," kata Kouch, karena menurutnya pemerintah Suriah berada dalam posisi lemah vis-a-vis Israel.

Meskipun ada ancaman berulang dari Assad, termasuk yang terakhir dalam sebuah surat kepada PBB yang memperingatkan tentang "konsekuensi serius dari serangan agresif berulang tersebut", pasukan pemerintah telah macet akibat perang enam tahun tersebut.

Namun, ada yang mengatakan bahwa eskalasi masa depan seharusnya tidak dikesampingkan.

Menurut Zalzberg, awalnya, Assad memilih untuk mengabaikannya, tapi semakin banyak keseimbangan pertempuran di Suriah yang menguntungkannya, semakin dia merasa mampu dan berkewajiban untuk membalas Israel. 

Sumber: tulisan Zena Tahhan di Al Jazeera


Mi’raj News Agency (MINA)